Royal Enfield Interceptor and Continental GT: Test Ride Review Motor Terhalus Royal Enfield

Hello pembaca sekalian. Sekitar awal bulan ini, kru giginetral (saya dan teman saya), kembali mendapat kesempatan untuk mencoba test ride dengan mesin terkuat dari Royal Enfield, yaitu Royal Enfield Interceptor dan Continental GT. Sebenarnya untuk Interceptor, saya pernah mencobanya ketika pameran IIMS 2019 lalu, namun namanya juga mencoba di pameran, lahan area test ridenya sangat terbatas. Kebetulan, Royal Enfield Indonesia yang dinaungi PT. Nusantara Batavia International, mengadakan pameran dan test ride di Motovillage, Kemang dan saya mendapat undangan dari sales untuk ikut test ride motor RE (singkatan dari Royal Enfield). Tanpa basa basi, sehabis sunmori, saya dan teman langsung menuju lokasi. Nah, pada artikel ini, saya fokus pada pembahasan mengenai bagaimana pengalaman dan rasa dari mengendarai Interceptor dan Continental GT. Are test ridenya sendiri adalah sepanjang jalan Antasari, bolak balik dari Motovillage ke ujung jalan, balik lagi ke Motovillage. Untuk segala pembahasan mengenai teknis dan speks, sobat sekalian bisa baca di artikel disini.  

POSISI DUDUK

Khusus mengenai posisi duduk, part ini akan dibagi dua, karena antara Interceptor dan Continental GT hanya berbeda diposisi duduknya saja.

Royal Enfield Interceptor

Baik Interceptor dan Continental GT memiliki tinggi bangku 803 mm. Ini jelas akan berpengaruh buat tinggi rata – rata orang Indonesia dewasa pada umumnya. Walau, memiliki tinggi bangku yang sama, Interceptor dan Continental GT menawarkan posisi berkendara yang berbeda. Duduk diatas Interceptor dan Continental GT untuk saya dan teman, yang memiliki tinggi badan sekitar 170 cm, akan sedikit jinjit untuk menapak tanah, ketika duduk diatas kedua motor ini.

Interceptor merupakan motor bermodel classic roadster sehingga menawarkan posisi duduk yang lebih rileks dan lebih tegap, layaknya motor naked pada umumnya. Posisi setang hampir setinggi dada. Posisi kaki cukup netral, karena hampir sejajar dengan badan. Posisi badan pun tidak terlalu jauh dari posisi setang. Dengan kombinasi ini, maka didapatlah posisi berkendara yang cukup rileks dan cukup nyaman untuk jarak jauh. Mungkin jika disamakan dengan motor yang cc-nya lebih kecil, duduk diatas Interceptor layaknya duduk diatas Yamaha V-ixion atau XSR150.

Royal Enfield Continental GT

Tidak seperti Interceptor yang beraliran roadster, Continental GT justru menganut aliran Cafe Racer. Seperti pada motor cafe racer pada umumnya, yang membedakan dengan Interceptor adalah posisi setangnya yang jauh lebih rendah, menyudut kedalam dan sejajar dengan segitiga setang. Efeknya otomatis badan pengendara dipaksa lebih menunduk layaknya duduk diatas motor sport. Tapi tenang sob, posisi duduknya tidak seekstrim motor sport tulen kok. Posisi duduk Continental GT bisa disamakan mirip – mirip dengan posisi motor sport tourer seperti Kawasaki Ninja 250 (yang 2 silinder) dan Yamaha R25. Nunduk tapi tetap nyaman.

BOBOT BERAT MOTOR

Bobot buat saya menjadi perhatian khusus jika membicarakan kedua motor ini. Kedua motor ini sebagian besar materialnya adalah besi, sehingga tidak heran berat motor ini bisa mencapai 202 kilogram. Berat ini kerasa banget sob ketika kita berusaha menegakkan motor apalagi ketika berusaha melakukan manuver maju mundur di parkiran. Bobot motor ini harus menjadi perhatian terutama untuk pemula yang baru terjun naik motor besar. Bayangin ajah kalo misalnya jatuh dengan motor besi seberat 202 kilogram, itu kaki bisa jadi geprek.

HANDLING (PENGENDALIAN)

Menyalakan mesin, dan menjalankan Interceptor atau Continental GT, langsung terasa bobot yang cukup berat dari motor. Ketika berjalan peran dan bermanuver pelan, terasa bahwa motor ini bukanlah motor yang lincah. Butuh sedikit usaha dan tenaga untuk menggerakkan motor ini pindah dari kekanan dan kiri ketika kita berada diparkiran atau berada ditengah kemacetan yang padat ketika mencari celah. Untuk Interceptor mencari celah masih lebih mudah karena posisi tegap, namun lain halnya dengan Continental GT, yang lebih sulit karena posisi badan membungkuk, sehingga membatasi gerakan tangan dan badan. Hal ini juga sama dirasakan ketika kita ingin berputar balik. Ketika berputar balik, harus mengambil ancang – ancang terlebih dahulu karena radius putar yang agak lebar dan menahan bobot motor ketika berputar arah.

Ketika bertemu jalan lurus yang panjang, barulah disini Interceptor dan Continental GT bersinar. Bobot motor yang berat dan solid memastikan motor dengan stabil dan kokohnya melaju di jalan lurus dengan mantap. Mau kena angin dari samping pun, ini motor kaya tidak bergeming, karena bobotnya yang membuat motor ini melaju dijalan lurus dengan sangat stabil.

Untuk soal tikung menikung, kedua motor ini saya rasa motor yang kurang tepat untuk miring – miring cornering ekstrim. Balik lagi, karena motor ini kurang lincah karena bobotnya, jadi ketika kita berganti arah dengan cepat, badan harus ikut main dan dibutuhkan tenaga untuk berganti arah dengan cepat. Namun begitu, ketika ketemu tikungan yang panjang, motor ini melahap tikungan dengan mantap dan stabil ketika menikung.

SUSPENSI

Baik Interceptor dan Continental GT menggunakan setup suspensi yang sama. Didepan, menggunakan suspensi teleskopik biasa dan suspensi belakang menggunakan double suspensi yang sudah menggunakan tabung. Kedua suspensi motor ini menurut saya masuk ke kategori empuk. Suspensinya meredam gelombang dan lubang dengan cukup baik. Masih terasa sedikit memang, tapi overall suspensi termasuk kategori nyaman. Hanya yah karena suspensinya tergolong empuk, maka dipakai menikung agak sedikit goyang atau membal. Namun goyangan ini tidak berpengaruh banyak, karena bobot motor ini yang membuat motor ini stabil.

PENGEREMAN

Untuk pengereman, Interceptor dan Continental GT, dibekali rem cakram baik didepan dan dibelakang. Untuk ban depan, dibekali rem cakram single berukuran 320 mm yang digigit oleh kaliper 2 piston, sementara belakang cakram single berukuran 240 mm yang digigit oleh kaliper 1 piston. Dua rem ini sudah dibekali sensor ABS dual channel dari Bosch sehingga mencegah ban mengunci ketika rem mendadak.

Buat saya kedua rem ini cukup mumpuni untuk menahan laju motor bermesin 650cc ini. Remnya tergolong cukup pakem tapi termasuk lembut, sehingga ketika mengerem, agak sedikit dalam ketika menekan remnya. Rem ini cocok buat rider yang yang santai karena remnya termasuk mudah terprediksi dan tidak akan mengigit terlalu kencang sehingga tidak membuat rider serasa terpelanting kedepan.

POWER (TENAGA)

Okeehh, saatnya membicarakan tentang bagian paling menarik dari motor ini yaitu tenaga mesinnya dan buat saya yang merupakan rider RE Classic 500, mesin 650cc merupakan mesin paling enaaakkk dari Royal Enfield. Buat anda yang pernah mencoba RE Classic, pasti hafal banget dengan getaran mesinnya yang luar biasa bahkan terasa sampai bikin tangan agak tremor (lebay dikit). Nah, getaran kasar tidak akan anda temui di RE Interceptor dan Continental GT. Nyalakan mesin 650cc -nya, anda akan disambut dengan mesin yang suaranya halus, dan getarannya juga sangat halus. Jauh lebih halus dari getaran mesin RE Classic. Geber sedikit gasnya, maka suara yang keluar dari basnya terdengar dalam, halus dan tonenya ngebass. Asli ini motor yang paling enak getaran halusnya daripada mesin RE model lainnya.

Bicara soal tenaga, tidak seperti motor 650cc lainnya yang mengumbar tenaga, kedua motor ini lebih mengutamakan tenaga torsi ketimbang tenaga putaran atas. Jadi jangan berharap larinya macam motor sport 600cc yahh. Berspesifikasi 648 cc, 4 tak, parallel twin cylinder, SOHC, dengan pendingin udara dan oli yang menghasilkan tenaga 47 hp pada 7100 rpm dan torsi 52 Nm pada 5200 rpm, serta berkompresi 9,5 :1, spek-nya memang tenaganya termasuk biasa di kelas mesin 650cc, namun torsinya termasuk kuat dan ini terasa banget ketika mencoba Interceptor dan Continental GT dijalan.

Ketemu jalan kosong, putar gasnya, terasa gelombang torsi mendorong badan dengan tenaga melimpah namun tidak sampai menjambak sob. Tenaga mesinnya lebih terasa mengalir namun kuat dari putaran bawah. Sensasi tenaganya tidak seperti motor sport 600cc yang digas dikit, langsung menarik badan kebelakang. Aliran torsi yang kuat ini membuat Interceptor dan Continental GT dengan mudahnya menyentuh kecepatan 120 km/jam di jalanan Antasari yang agak kosong. Asik banget deh sensasi tenaganya. BIsa dibilang, tenaga dua motor ini sangat kuat, namun tidak sampai pada tahap mengintimidasi, sehingga tidak membuat anda takut ketika memutar gas secara penuh.

KESIMPULAN

Jika anda menginginkan motor bertampang ganteng, aura classic yang sangat kuat, tenaga melimpah namun tidak mengintimidasi, dan bisa diajak santai. Maka motor ini bisa dijadikan pilihan buat anda. Overall, saya sendiri sangat menyukai Interceptor dan Continental GT. Namun buat saya pribadi, lebih suka Interceptor karena posisi ridingnya lebih santai hehe

Oh yah, jika anda juga doyan dengan motor custom, maka Interceptor dan Continental GT juga cocok buat anda yang ingin mencari motor yang bisa diubah sesuai selera custom anda. Mau dijadikan scrambler, tracker, atau mungkin bobber, bisa anda wujudkan dengan motor ini. Jika anda tertarik, maka siapkan dana Rp. 205.700.000,- untuk Interceptor dan Rp.216.900.000,- untuk Continental GT. Cukup worth it lah harganya untuk bigbike yang berasal dari India ini. Thank you sudah membaca.

KESIMPULAN DALAM KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

Kelebihan:

  • Desain dan model classic yang ganteng
  • Aura classic kuat banget
  • Detailnya cakep
  • Posisi duduk yang cukup santai dan tidak terlalu menunduk untuk Continental GT
  • Stabil dikecepatan tinggi dan menikung
  • Torsi mesin sangat melimpah
  • Tenaganya tidak mengintimidasi
  • Mesin besar namun tidak membuat kaki panas
  • Getaran dan suara mesin halus banget
  • Rem cukup pakem

Kekurangan:

  • Tinggi jok yang 803 mm bikin jinjit sedikit
  • Motor cukup berat
  • Tidak begitu lincah di perkotaan
  • Harganya bukan untuk semua orang

By: Axel Mahal for giginetral.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *